Blogger Tips and TricksLatest Tips For BloggersBlogger Tricks

Kamis, 07 November 2013

ResumeTeori Belajar Behaviorisme

Nama : Anisah Firdaus
NIM   : 1305923
Mata Kuliah : Teori Belajar dan Pembelajaran


Definisi Teori Behaviorisme

Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusiamesin” (Homo Mechanicus).

Prinsip-prinsip Teori Behaviorisme :

a.       Reinforcement and punishment (Menambahkan /mengurangi rangsangan)
b.      Primary and Secondary (Kebutuhan pokok, rangsangan dari asumsi seseorang)
c.       Schedules of reinforcement (Rangsangan secara terjadwal)
d.      Contingency management (Berhubungan dengan kesehatan mental)
e.       Stimulus control in operant learning (Mengendalikan rangsangan untuk menghasilkan perilaku yang diharapkan)
f.       The elimination of responses (Penghapusan perilaku yang tidak diinginkan).  




Beberapa tokoh-tokoh behavioris yang berkembang dari tahun 1874 sampaisaat sekarang ini :


Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949))
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasianatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan padasangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalamsangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. 

Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagaisituasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksimencapai tujuan.Thorndike menemukan hukum-hukum :
1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderungdiperkuat.
2. Hukum latihan (Law of Excercises)
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakinkuat.
3. Hukum akibat (Law of effect)
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dancenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Teori pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilakutertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yangterpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli.Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan

Prinsip belajar Skinners adalah :

Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.- Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.- Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman.Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.- Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.- dalam pembelajaran digunakan shapping

Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan
konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambak atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diriyang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi oranglain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah lakutimbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan.Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi. Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaandan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.


Ciri-ciri teori Behaviorisme :

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.

  • Para Ahli Psikologi pendidikan menyatakan bahwa pembelajaran menurut konsep Behaviorisme berlangsung dengan tiga langkah pokok, yaitu :
  1. Tahap Akuisi (Tahap perolehan pengetahuan) dalam tahap ini siswa belajar tentang informasi baru.
  2. Tahap Retensi, dalam tahap ini informasi atau keterampilan baru yang di pelajari di praktikan sehingga siswa dapat mengingatnya selama satu periode waktu tertentu. Tahap ini juga disebut tahap penyimpanan (storage stage) artinya hasil belajar disimpan untuk digunakan di masa depan.
  3. Tahap Transfer, kemampuan untuk mengingat kembali informasi dan menggunakannya dalam situasi baru (yaitu mentransfernya dalam pembelajaran yang baru). 
Kelebihan dan Kekurangan Teori Behaviorisme :

Kekurangan

  • Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat meanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.Penggunaan hukuma sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan
  • siswa ( tori skinner ) baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata – kata kasar , ejekan , jeweran yang justru berakibat buruk pada siswa.

Kelebihan

  • Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, dan daya tahan

Referensi :
http://www.freewebs.com/hijrahsaputra/catatan/TEORI%20BELAJAR%20DAN 
%20PEMBELAJARAN.htm
http://rohman-makalah.blogspot.com/2008/07/teori-belajar-akhmad-sudrajat-m.html 

Jumat, 01 November 2013

Resume Teori Belajar Disiplin Mental

Nama : Anisah Firdaus
NIM   : 1305923
Mata Kuliah : Teori Belajar dan Pembelajaran 


 Pengertian

Teori belajar disiplin mental lebih menekankan pada keterlibvatan psikissedangkan fisik tidak terlalu berpengaruh. Dalam teori ini belajar di artikan sebagai pengembangan dari kekuatan, kemampuan, dan potensi-potensi yang di miliki setiap individu.

Sejarah

Teori belajar disiplin mental merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar ynag di susun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsufnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Belajar di lukiskan sebgai pengembangan oleh pikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaan ini kemudian di kenal sebagai konsep disiplin mental.

Karakteristik Teori Dispilin Mental 

  1. Teori Disiplin Mental Theistik, berasal dari psikologi daya (mengamati dan memecahkan masalah)
  2. Teori Disiplin Mental Humanistik, Lebih mementingkan keutuhan keseluruhan.
  3. Teori Disiplin Mental Naturalisme, Kemampuan untuk berkembang dan belajar sendiri.
  4. Teori Disiplin Mental Apresiasi, Kemampuan untuk mempelajari sesutau dan menguasai pengetahuan selanjutnya.   
  5. Teori Disiplin Mental Psikologi daya, yaitu dikatakan bahwa setiap individu peserta didik memiliki daya untuk mengenal, mengingat, mengkhayal, berfikir dan sebagainya. Dan daya-daya tersebut dapat dikembangkan melalui latihan.
  6. Teori Disiplin Mental Herbartisme, yaitu dikatakan bahwa setiap individu peserta didik dapat menerima tanggapan-tanggapan dari luar (lingkungannya), dan dapat diproses dalam dirinya yang kemudian dapat diungkapkan kembali oleh dirinya.
  7. Teori Disiplin Mental Naturalisme Romantik, yaitu bahwa manusia baik dan aktif yang memiliki perasaan didalam dirinya masing-masing.
 Tujuan
  1. Menghasilkan Manusia yang memiliki kemampuan unggul di bidang yang di kerjakannya atau di latihnya secara disiplin.
  2. Menambah pengetahuan untuk perubahan individu secara menetap dan berdasarkan pengalaman dalam proses belajar mengajar.  
  Kelebihan dan kekurangan

Siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara bertahapdan terus menerus, namun apabila teori disiplin mental diadakan secara demikian tanpa memperhatikan unsure psikologis menjadikan siswa terbebani pikirannya dan tidak mampu mengikuti pembelajaran secara maksimal.


Kamis, 17 Oktober 2013

Resume Pilar- pilar Pendidikan Menurut UNESCO

Nama : Anisah Firdaus
NIM   : 1305923
Mata Kuliah : Teori Belajar dan Pembelajaran 


Pilar- pilar Pendidikan Menurut UNESCO : 
  1. Learning to know (Belajar untuk mengetahui)
  2. Learning to do (Belajar untuk berkarya)
  3. Learning to be (Belajar untuk berkembang utuh)
  4. Learning to live together (Belajar untuk hidup bersama) 
Empat pilar pendidikan yang diungkapkan oleh UNESCO merupakan aspek filosofis yang harus diterapkan dalam menjalankan proses pendidikan.

1.    Learning to know (Belajar untuk mengetahui)
 
            Didalam dunia pendidikan, proses pembelajaran antara peserta didik dan pendidik menjadi sebuah proses yang umum dan sudah tidak asing lagi. Ini merupakan contoh pengaplikasian dari empat pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu salah satunya untuk melakukan pembelajaran untuk mengetahui. Seorang peserta didik sengaja di didik untuk diberikan teori dan ilmu pengetahuan sehingga wawasan yang dimilikinya semakin luas dan bertambah. Karena Learning to know merupakan awal dari terciptanya sebuah desain pendidikan dan pengembangan pendidikan. Desain pendidikan dan pengembangan pendidikan merupakan proses yang kompleks. Pilarnya adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita pegang.
     Desain pendidikan dibentuk melalui 2 poin:
  1. Apa yang perlu diketahui ? (Apa yang perlu siswa ketahui)
  2. Bagaimana cara yang efektif untuk mengetahuinya ? (bagaimana cara siswa belajarnya)
Learning to know menjadi pondasi awal yang harus ditempuh oleh para peserta didik dalam belajar. Karena segala sesuatu yang akan dilakukan oleh peserta didik setelah mereka menjamah dunia masyarakat, tanpa pengetahuan yang mendasar dan pengetahuan yang luas, segala bentuk pengaplikasian di masyarakat pun tidak akan terlaksana. Untuk itu lembaga pendidikan sekolah formal menjadi wadah dan fasilitas bagi para peserta didik melaksanakan pembelajaran untuk mengetahui dan berpengetahuan.


2.Learning to do (Belajar untuk berkarya)
 
            Menciptakan sebuah karya adalah salah satu yang menjadi ciri khas dari seorang individu. Potensi dan bakat setiap individu termasuk peserta didik pasti berbeda-beda.   Sehingga karya yang mereka hasilkan pun pasti akan berbeda. Proses pembelajaran dalam konsep learning to do adalah peserta didik harus mau dan mampu (berani) mengaktualisasi keterampilan yang dimilikinya, selain bakat dan minat yang telah dimiliki sejak awal. Peserta didik dilatih untuk menciptakan sebuah karya yang dapat bermanfaat untuk orang lain sebagai implementasi dari apa yang mereka dapatkan setelah belajar untuk mengetahui. Tempat berlangsungnya pendidikan (misalnya Sekolah) harus mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengaktualisasi dirinya. Salah satu contohnya adalah di Sekolah Menengah Kejuruan/SMK, dimana peserta didik dilatih untuk siap menghadapi dunia pekerjaan dengan praktek yang dilaksanakan dalam proses pembelajarannya
            
Pondasi-pondasi penting dalam Learning to Do :
1.      Martabat manusia dan martabat tenaga kerja (Human Dignity and The Dignity of Labour)
2.      Kesehatan dan harmonisan dengan alam (Health and Harmony with Nature)
3.      Kebenaran dan kebijaksanaan (Truth and Wisdom)
4.      Cinta dan kasih sayang (Love and Compassion)
5.      Kreativitas (Creativity)
6.      Perdamaian dan keadilan (Peace and Justice)
7.      Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)
8.      Persatuan dan solidaritas nasional (National Unity and Global Solidarity)
9.      Spiritual global (Global Spirituality)

3. Learning to be (Belajar untuk berkembang utuh)
            Setelah peserta didik dilatih untuk menciptakan sebuah karya yang dapat bermanfaat di dalam masyarakat, mereka juga harus menjadi seseorang yang dapat berkembang utuh. Yaitu memiliki percaya diri yang tinggi dan dapat menjadi individu yang siap hidup dalam masyarakat. Menurut Edgar Faure dalam laporannya “ manusia itu hakikatnya tidak lengkap, terbagi-bagi, dan belum selesai “. Artinya bahwa pendidikan harus diarahkan untuk pengembangan manusia seutuhnya mulai dari aspek fisik, intelektual, emosional, dan etika.
            Learning to be mengandung arti bahwa belajar adalah proses dari pembentukan manusia yang menjadi jati dirinya sendiri. Konsep ini diterapkan agar setiap peserta didik dapat bertanggungg jawab sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Setiap konsep pilar pendidikan satu sama lain berkesinambungan, setah peserta didik mendapatkan pengetahuan yang luas dalam belajar, dan dapat mengaplikasikannya dengan baik dalam menghasilkan sebuah karya, maka peserta didik akan mampu menjadi manusia yang seutuhnya. Yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain dalam masyarakat. Sehingga ketiga hal ini menjadi pondasi untuk pilar ke empat yaitu belajar untuk hidup bersama didalam masyarakat.

4. Learning to live together (Belajar untuk hidup bersama) 
            Pilar yang terakhir yaitu learning to live together, menjadikan suatu tujuan akhir dari pilar-pilar sebelumnya. Karena ketiga pilar sebelumnya merupakan pondasi bagi para peserta didik untuk dapat bertahan hidup dalam dunia masyarakat suatu saat nanti. Karena tanpa ketiga pilar sebelumnya, peserta didik tidak akan maksimal dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dalam kehidupan yang nyata dalam masyarakat.


Adapun contoh masalah-masalah yang akan dihadapi peserta didik dalam kehidupan masyarakat adalah: 
  1. Masalah antara global dan lokal 
  2. Masalah antara universal dan individu
  3. Masalah antara tradisi dan modernitas
  4. Masalah dalam menentukan jangka waktu suatu program
  5. Masalah antara kebutuhan untuk kompetensi dan mendapatkan suatu peluang
  6. Masalah untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman manusia
  7. Masalah antara spiritual dan material.
            Tujuan peserta didik dilatih untuk dapat hidup bersama adalah karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, manusia yang membutuhkan orang lain dan ketergantungan antara satu dengan lainnya. Dan manusia memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi sehingga sangat penting untuk peserta didik dilatih agar dapat bermanfaat dan bertahan dalam hidup bermasyarakat. 


 

Selasa, 08 Oktober 2013

V. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran

Nama : Anisah Firdaus
NIM   : 1305923
Mata Kuliah : Teori Belajar dan Pembelajaran

Secara umum factor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor internal dan factor eksternal . kedua factor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
A. Factor internal
Factor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan factor psikologiss.
1.      Factor fisiologis

Factor-faktor fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor-factor ini dibedakan menjadi dua macam.

Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.

Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah :

a.      menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena  kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu , dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar,
b.      rajin berolah raga agar tubuh selalu bugar dan sehat;
c.      istirahat yang cukup dan sehat.

Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula . dalam proses belajar , merupakan pintu  masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh lkarena itu, baik guru maupun siswwa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat kuratif. Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodic, mengonsumsi makanan yang bergizi , dan lain sebagainya.

2. Factor psikologis

Factor –faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama memngaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat.

        kecerdasan /intelegensia siswa

Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemempuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsaganan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan dmikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hamper seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan factor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi iteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai factor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingakat kecerdasannya.
Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut ((Fudyartanto  2002).

Distribusi Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision
Tingkat kecerdasan (IQ)
Klasifikasi
140 – 169
Amat superior
120 – 139
Superior
110 – 119
Rata-rata tinggi
90 – 109
Rata-rata
80 – 89
Rata-rata rendah
70 – 79
Batas lemah mental
20 — 69
Lemah mental


Dari table tersebut, dapat diketahui ada 7 penggolongan tingkat kecerdasan manusia, yaitu:

A.      Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140—IQ 169;
B.     Kelompok kecerdasan superior merenytang anatara IQ 120—IQ 139;
C.     Kelompok rata-rata tinggi (high average) menrentang anatara IQ 110—IQ 119;
D.     Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ 90—IQ 109;
E.     Kelompok rata-rata rendah (low average) merentang antara IQ 80—IQ 89;
F.      Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70—IQ 79;
G.     Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20—IQ 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, idiot.

Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orang tua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata-rata, atau mungkin malah lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk memprediksi kamampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu megarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.

-          Motivasi

Motivasi adalah salah satu factor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motaivasi intrinsic adalah semua factor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsic relaatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsic untuk belajar anatara lain adalah:

a.      Dorongan ingin tahu dan ingin menyelisiki dunia yang lebih luas;
b.      Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
c.      Adanaya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebaginya.
d.      Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.

Motivasi ekstrinsik adalah factor yang dating dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untauk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, danlain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah. 

-          Minat

Secara sederhana,minaat (interest) nerrti kecemnderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai factor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajaranya.
Untuk membagkitkan minat belajar tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Anatara lain, pertama, dengan mebuat materi yang akan dipelajarai semenarik mingkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desai pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang  studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
  
-          Sikap

Dalam proses belajar, sikap individu dapat memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebaginya, baik secara positif maupun negative (Syah, 2003).
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negative dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas,seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengambangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajaranyang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkansiswa bahwa bidang studi yang dipelajara bermanfaat bagi ddiri siswa.

-          Bakat

Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki seorang siswa untauk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satukomponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasiyang berhungan dengan bakat yang dimilkinya. Misalnya, siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.
Karena belajar jug dipengaruhi oleh potensi yang dimilki setiap individu,maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta didiknya, anatara lain dengan mendukung,ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.

b. Factor-faktor eksogen/eksternal

Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.

1)                  Lingkungan social

a.      Lingkungan social sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
b.      Lingkungan social massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.      Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

2)                  Lingkungan non social.     

 Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;
a.      Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
b.      Factor instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c.      Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.